Api di Bawah Tanah

gambut Kalimantan Selatan · jarak antara satelit dan tanah · rencana liputan dan usulan solusi · 7 September 2026

Di Kalimantan Selatan, api gambut menyala di bawah permukaan tanah, tempat yang tidak bisa dilihat satelit. Dokumen ini menjelaskan persoalannya, merinci rencana liputan bersama jurnalis untuk mengangkatnya, dan menyimpan usulan solusinya di bab terpisah yang baru dibuka setelah isunya sampai ke meja pengambil keputusan. Angka lapangan berasal dari data resmi dan penelitian kampus setempat, dan seluruh sumbernya bisa diperiksa pada daftar di akhir halaman.

Anda jurnalis

Isu, angka yang bisa dikutip, narasumber, naskah wawancara, urutan gambar, dan aturan main liputan.

mulai dari 0, lalu 2 sampai 13
Anda pengambil kebijakan

Apa yang sedang terjadi, berapa biayanya bagi warga, dan di mana letak celah yang bisa ditutup.

mulai dari 3, lalu 4, lalu 6
Anda calon pendukung

Apa yang diminta, apa yang sudah ada, dan apa yang belum terjawab dengan jujur.

mulai dari 6, lalu 7, lalu 18
Anda pembaca teknis

Beda cara ukur, penelitian rujukan, rancangan stasiun, dan batas yang belum terukur.

mulai dari 5, lalu 6, lalu 15
Bagian 0

Persoalannya dalam bahasa sehari-hari

Tanpa istilah teknis. Bagian ini cukup untuk menjelaskan kenapa kebakaran gambut berbeda dari kebakaran biasa, dan kenapa alat yang kita pakai untuk memantaunya sering terlambat.

00Dalam satu kalimat

Kita memburu api gambut memakai mata yang hanya bisa melihat permukaan, padahal apinya hidup di bawah tanah, kadang berminggu-minggu sebelum muncul ke atas, sehingga saat terlihat dari langit, api itu sudah menyebar jauh dari titik awalnya.

Gambar berikut menjelaskan perbedaannya. Di kiri, kebakaran biasa pada semak dan rumput: api ada di atas tanah, terlihat, dan padam ketika disiram. Di kanan, kebakaran gambut: api merambat di lapisan tanah yang tersusun dari sisa tumbuhan kering, tanpa nyala besar, dan bisa terus hidup di bawah permukaan yang tampak sudah padam.

Ctrl/Cmd + gulir untuk memperbesar. Seret untuk menggeser. Klik ganda untuk pas layar.

Memuat...
01Lima hal dasar yang perlu dipahami lebih dulu

Lima keterangan berikut adalah bekal minimum sebelum membaca sisa dokumen, dan juga bahan untuk menjelaskan persoalan ini kepada penonton yang belum pernah mendengarnya.

Satu
Gambut adalah tumbuhan mati yang tidak lapuk

Terbentuk ribuan tahun di lahan yang tergenang. Karena selalu terendam, sisa tumbuhan tidak membusuk sempurna dan menumpuk jadi lapisan tanah organik yang tebal.

Dua
Airnya adalah bahan penyusunnya

Gambut sehat sebagian besar isinya air. Ketika airnya dikeringkan lewat kanal dan parit, yang tersisa adalah bahan bakar organik kering dalam jumlah sangat besar.

Tiga
Api gambut membara, bukan menyala

Pembakaran terjadi pelan di bawah permukaan tanpa lidah api besar. Suhunya lebih rendah dari kebakaran biasa, asapnya jauh lebih tebal, dan umurnya jauh lebih panjang.

Empat
Api berjalan di bawah kaki orang

Bara merambat lewat lapisan bawah tanah dan bisa muncul puluhan meter dari titik semula. Inilah sebabnya kebakaran gambut sering tampak berpindah sendiri.

Lima
Yang dilihat satelit adalah panas permukaan

Titik panas pada peta adalah anomali suhu di permukaan yang tertangkap sensor satelit. Bara yang masih terkubur, tertutup asap, atau tertutup awan bisa lolos dari pantauan.

Akibatnya
Kita selalu setengah langkah terlambat

Regu pemadam berangkat setelah panas cukup besar untuk terlihat dari luar angkasa, padahal biaya memadamkan bara kecil jauh lebih murah daripada memadamkan hamparan yang sudah menyebar.

Kalimat yang bisa dipakai jurnalis. Kebakaran gambut bukan sekadar kebakaran yang lebih besar. Ia kebakaran yang terjadi di tempat yang tidak bisa kita lihat, dengan alat pantau yang memang tidak dirancang untuk melihat ke bawah tanah.

Bagian A

Isunya, dengan angka yang bisa diperiksa

Di mana gambut Kalimantan Selatan berada, berapa yang terbakar musim ini, apa akibatnya pada manusia, dan di mana letak celah antara cara kita memantau api dan tempat api itu sebenarnya berada.

02Gambut Kalimantan Selatan dan kenapa ia mengering

Kalimantan Selatan bukan provinsi dengan gambut terluas. Justru itu yang membuat kasusnya menarik: dengan hamparan gambut yang jauh lebih kecil dibanding tetangganya, provinsi ini tetap menghadapi kebakaran berulang setiap tahun, di lokasi yang kurang lebih sama, termasuk di kawasan yang statusnya hutan lindung dan di sekitar bandar udara.

~3,9 juta ha
luas Provinsi Kalimantan Selatan
~1,8 juta ha
hutan alam
~0,1 juta ha
lahan gambut, sekitar 2,5 persen luas provinsi
960 ha
Hutan Lindung Liang Anggang Blok I, Banjarbaru, terbakar berulang tiap tahun

Angka luas provinsi, hutan alam, dan gambut dikutip peneliti Fakultas Kehutanan ULM dalam kajian Landasan Ulin Utara. Rincian sumber ada di nomor 19.

Persoalannya bukan semata musim kemarau. Gambut yang masih basah sangat sulit terbakar. Yang membuat hamparan ini mudah menyala adalah air yang keluar lebih cepat daripada yang masuk, terutama akibat kanal dan parit yang dibuat untuk permukiman, pertanian, dan jalan. Diagram berikut merangkai urutannya.

Ctrl/Cmd + gulir untuk memperbesar. Seret untuk menggeser. Klik ganda untuk pas layar.

Memuat...

Yang membuat lokasi ini layak diliput. Hutan Lindung Liang Anggang berstatus kawasan lindung, luasnya hanya 960 hektare, letaknya di dalam kota Banjarbaru, dan tetap terbakar berulang setiap tahun. Kalau kawasan sekecil itu, sedekat itu, dan sepenting itu saja belum bisa dijaga, pertanyaan tentang kawasan yang lebih luas dan lebih jauh menjawab dirinya sendiri.

03Angka musim ini, dan di mana apinya berada

Data berikut dilaporkan Badan Penanggulangan Bencana Daerah Kalimantan Selatan untuk periode sampai 1 September 2026, dan diberitakan pada awal September 2026. Ini angka yang sedang berjalan, bukan catatan tahun lalu, sehingga liputan yang dikerjakan sekarang berada tepat di tengah musimnya.

12.339,74 ha
luas kebakaran hutan dan lahan Kalsel sampai 1 September 2026
2.332
jumlah kejadian pada periode yang sama
2.737,51 ha
Kabupaten Banjar, luas terdampak tertinggi
474
Kota Banjarbaru, jumlah kejadian tertinggi
WilayahKejadianLuas terdampakCatatan untuk peliputan
Kota Banjarbaru4741.831,80 ha Kejadian terbanyak. Di kota ini terdapat Hutan Lindung Liang Anggang dan Kelurahan Landasan Ulin Utara, dua lokasi yang sudah diteliti dosen ULM.
Kabupaten Banjar4412.737,51 ha Luas terdampak tertinggi. Berguna sebagai pembanding bahwa jumlah kejadian dan luas tidak selalu sejalan.
Kabupaten Tanah Laut359belum dirinci di sumber Perlu ditanyakan langsung ke BPBD saat wawancara.
Prioritas operasiWilayah ring satu bandar udara BPBD menyatakan pemantauan harian difokuskan pada kawasan sekitar bandara. Ini menjelaskan kenapa asap sering berujung penerbangan terganggu.

Hati-hati membandingkan tahun. Angka luas kebakaran memakai definisi, sumber, dan periode yang berbeda antar lembaga dan antar tahun. Sebelum menulis kalimat semacam naik sekian persen dibanding tahun lalu, mintalah rangkaian data beberapa tahun langsung dari satu sumber yang sama, dan tanyakan cara menghitungnya.

04Yang ditanggung manusia, bukan cuma hutan

Kebakaran gambut menghasilkan asap yang jauh lebih pekat dan bertahan lebih lama dibanding kebakaran biasa, karena pembakarannya berlangsung pelan dan tidak sempurna. Beban itu jatuh pada saluran pernapasan warga, dan angkanya muncul di fasilitas kesehatan berminggu-minggu sebelum kebakaran dinyatakan selesai.

Angka yang beredarCakupan dan periodeStatus
Sekitar 46.000 kasus infeksi saluran pernapasan akut Se-Kalimantan Selatan, diberitakan 31 Agustus 2026, dengan kabut asap disebut penyebab utama konfirmasi ke Dinkes
21.323 kasus Kota Banjarbaru, Januari sampai Juli 2026, menurut Dinas Kesehatan setempat konfirmasi ke Dinkes
1.874 kasus dalam sepekan Kota Banjarmasin, awal September 2026, saat kabut asap berlangsung konfirmasi ke Dinkes
6.700 kasus Disebut dalam pemberitaan lain bersamaan dengan pengerahan tim medis ke posko karhutla tidak sebanding, jangan disandingkan

Peringatan redaksional yang penting. Empat angka di atas tidak boleh diletakkan berdampingan seolah saling melengkapi. Cakupan wilayah dan rentang waktunya berbeda, dan satu di antaranya bahkan tidak jelas periodenya. Menyandingkannya akan menghasilkan grafik yang keliru dan mudah dibantah pejabat mana pun dalam satu kalimat.

Yang benar: pilih satu sumber, minta rangkaian datanya per bulan atau per minggu untuk beberapa tahun, lalu bandingkan musim asap dengan musim tanpa asap pada wilayah yang sama.

05Cara kita melihat api sekarang

Sistem peringatan yang dipakai hari ini bertumpu pada titik panas, yaitu keluaran satelit yang ditampilkan di layar petugas. Menurut keterangan resmi BMKG, deteksi titik panas memakai sensor VIIRS dan MODIS pada satelit orbit kutub, yaitu NOAA-20, S-NPP, Terra, dan Aqua. Satelit mendeteksi anomali suhu permukaan, yakni tempat yang jauh lebih panas dibanding sekitarnya. Pengamatan dilakukan siang dan malam untuk tiap satelit.

Rantai perjalanan datanya, dari langit sampai ke sepatu regu pemadam, terlihat pada diagram berikut. Perhatikan dua tempat yang menjadi sumber keterlambatan dan kekeliruan.

Ctrl/Cmd + gulir untuk memperbesar. Seret untuk menggeser. Klik ganda untuk pas layar.

Memuat...

Ini bukan kritik terhadap satelit. Pemantauan dari langit adalah satu-satunya cara murah untuk mengawasi wilayah seluas Kalimantan sekaligus, dan tanpa itu keadaan akan jauh lebih buruk. Persoalannya bukan alatnya salah, melainkan alat itu menjawab pertanyaan yang berbeda dari pertanyaan yang sebenarnya ingin kita jawab.

06Jarak antara langit dan tanah

Inilah inti persoalan yang akan dijelaskan narasumber ahli di dalam dokumenter. Ada dua cara mengukur potensi kebakaran gambut, dan keduanya mengukur hal yang berbeda. Satelit menjawab pertanyaan di mana ada panas sekarang. Alat ukur yang ditancapkan ke tanah menjawab pertanyaan di mana lahan sudah siap terbakar. Pertanyaan kedua datang lebih dulu, dan justru pertanyaan itulah yang jarang punya jawaban rapat di lapangan.

Ctrl/Cmd + gulir untuk memperbesar. Seret untuk menggeser. Klik ganda untuk pas layar.

Memuat...
PertanyaanCitra satelitSensor tertancap di tanah
Yang diukurAnomali suhu permukaanTinggi muka air tanah, kelembaban tanah, suhu pada beberapa kedalaman
Waktu peringatanSaat panas sudah besarSejak lahan mulai mengering, jauh sebelum ada api
Saat langit tertutup asap tebalPembacaan tergangguTidak terpengaruh
Bara di bawah permukaanSulit terbaca selama panas belum tembus ke atasTerbaca sebagai kenaikan suhu tanah pada kedalaman
CakupanSeluruh wilayah sekaligusHanya sekitar titik pemasangan
Kebutuhan perawatanTidak ada di sisi penggunaPerlu dipasang, dijaga, dan diganti bila rusak
Kelemahan utamaMelihat akibat, bukan sebabTidak berguna kalau titiknya terlalu sedikit dan terlalu jarang

Kalimat kunci untuk dokumenter. Satelit memberi tahu kita di mana api sudah menyala. Alat di dalam tanah memberi tahu kita di mana api akan gampang menyala. Selama ini kita membelanjakan hampir seluruh perhatian pada pertanyaan pertama.

07Yang sudah dikerjakan orang, dan yang sudah ada

Ada dua alasan bagian ini wajib ada. Pertama, agar liputan berpijak pada kerja ilmiah yang sudah dilakukan orang setempat, bukan pada kesan sesaat. Kedua, agar usulan yang muncul kemudian tidak terdengar seolah menemukan sesuatu yang sebenarnya sudah lama dibangun pihak lain.

Penelitian kampus setempat yang jadi pijakan

PenelitianPenelitiTemuan yang bisa dikutipDipakai untuk apa
Zonasi tinggi muka air gambut di Hutan Lindung Liang Anggang, Banjarbaru Suyanto dan Yusanto Nugroho, Fakultas Kehutanan Universitas Lambung Mangkurat Pengukuran langsung pada 173 dari 190 titik rencana, dengan jarak antartitik 250 meter sehingga satu titik mewakili sekitar 6,25 hektare. Muka air tanah berkisar 0,02 sampai 1,3 meter di bawah permukaan gambut. Sekitar 95 persen kawasan berada pada zona sampai 60 sentimeter, dengan sekitar 64 persen berada pada zona lebih dangkal dari 40 sentimeter. Bukti bahwa peta kekeringan gambut bisa dibuat, dan bahwa membuatnya berarti berjalan kaki ke ratusan titik.
Pencegahan kebakaran berulang pada lahan gambut berbasis tapak di Kelurahan Landasan Ulin Utara, Banjarbaru Fonny Rianawati bersama tim Fakultas Kehutanan Universitas Lambung Mangkurat Wawancara dan kuesioner terhadap 50 responden. Seluruh kejadian kebakaran berulang terkait aktivitas manusia. Sebanyak 76 persen responden menyatakan api menjalar dari lokasi lain, termasuk melalui lapisan gambut kering di bawah tanah. Peran warga masih didominasi pelaporan sebesar 80 persen, sementara hanya 20 persen ikut memadamkan. Bukti bahwa api merambat di bawah tanah bukan teori, melainkan pengalaman warga di lokasi liputan.

Adegan yang paling kuat sudah tersedia dari penelitian ini. Untuk membuat satu peta kekeringan gambut di kawasan seluas 960 hektare, peneliti mendatangi 173 titik satu per satu dan mengebor tanah di tiap titik. Peta itu benar pada hari pengukuran. Api datang setiap tahun, sepanjang musim, di hari yang tidak dipilih siapa pun.

Yang sudah dibangun pemerintah

Pemantauan tinggi muka air gambut secara otomatis bukan gagasan baru di Indonesia. Badan Restorasi Gambut, yang kini menjadi Badan Restorasi Gambut dan Mangrove, telah memasang alat pemantau tinggi muka air dan menghimpunnya dalam Sistem Pemantauan Air Lahan Gambut yang mencakup enam provinsi termasuk wilayah Kalimantan, dengan pelaporan mendekati waktu nyata.

Wajib diperiksa sebelum menulis atau mengusulkan apa pun. Berapa banyak alat yang benar-benar terpasang di Kalimantan Selatan hari ini, berapa yang masih berfungsi, siapa yang membaca datanya, dan apakah datanya sampai ke regu pemadam. Tanpa jawaban ini, liputan berisiko keliru dan usulan berisiko mengulang sesuatu yang sudah ada. Pertanyaannya sudah dimasukkan ke naskah wawancara pada nomor 10 dan ke daftar verifikasi pada nomor 18.

Di sisi akademik, rancangan alat pemantau gambut berbasis jaringan juga sudah pernah dibuat, antara lain purwarupa berbasis mikrokontroler dengan sensor tinggi muka air, suhu, kelembaban, dan kualitas udara yang mengirim data lewat radio jarak jauh. Artinya kelayakan teknisnya bukan spekulasi. Yang belum terjawab adalah pertanyaan yang jauh lebih membosankan sekaligus paling menentukan: siapa yang membiayai, siapa yang merawat, dan siapa yang bertindak ketika angkanya memburuk.

Bagian B

Rencana liputan

Kenapa persoalan ini dibawa lewat jurnalisme, siapa yang diwawancarai, adegan apa yang diambil, bagaimana artikelnya disusun, dan aturan keselamatan serta etika yang tidak boleh dilanggar di lapangan.

08Kenapa lewat liputan, bukan lewat proposal

Proposal teknis yang dikirim tanpa didahului perhatian publik hampir selalu berakhir di tumpukan yang sama dengan proposal lain. Yang mengubah keadaan biasanya bukan mutu proposalnya, melainkan adanya persoalan yang sudah terlanjur dilihat orang banyak, sehingga menanganinya menjadi keputusan yang menguntungkan bagi yang mengambilnya.

Karena itu urutannya dibalik. Tahap pertama membuat persoalannya terlihat, lengkap dengan wajah, angka, dan suara orang yang menanggungnya. Tahap kedua baru menawarkan jalan keluar, kepada pihak yang pada saat itu sudah punya alasan untuk mendengarkan.

Ctrl/Cmd + gulir untuk memperbesar. Seret untuk menggeser. Klik ganda untuk pas layar.

Memuat...

Batas yang menjaga semua pihak. Rekan jurnalis tidak menjanjikan isi pemberitaan kepada siapa pun, termasuk kepada pihak yang kelak mendukung pendanaan. Nama pendukung boleh dicantumkan sebagai pendukung, tetapi sudut pandang, pertanyaan, dan kesimpulan tetap sepenuhnya milik ruang redaksi. Aturan ini melindungi pendukung juga, karena dukungan pada liputan yang kredibilitasnya utuh bernilai jauh lebih besar daripada dukungan pada liputan yang dicurigai pesanan.

09Rencana kunjungan dan lokasi

Seluruh lokasi berada di dalam dan sekitar Kota Banjarbaru, sehingga satu perjalanan cukup untuk semua pengambilan gambar dan wawancara. Ini menekan biaya sekaligus memperkuat cerita, karena penonton melihat persoalan besar itu terjadi di satu kota yang bisa dikelilingi dalam sehari.

LokasiYang diambil di sanaYang perlu disiapkan lebih dulu
Hutan Lindung Liang Anggang Blok I
Banjarbaru
Bentang gambut, bekas kebakaran berulang, kanal dan parit, pengeboran titik ukur bersama peneliti. Izin masuk kawasan lindung dari instansi kehutanan, dan pendamping yang mengenal medan.
Kelurahan Landasan Ulin Utara
Banjarbaru
Permukiman berbatasan lahan gambut, warga terdampak, lahan bekas terbakar, sekat bakar dan saluran air. Izin kelurahan, dan pengantar dari peneliti yang pernah bekerja di sana.
Posko dan regu pemadam
BPBD atau Manggala Agni
Layar pemantauan titik panas, persiapan regu, keberangkatan verifikasi, pemadaman, peralatan. Surat permohonan liputan, dan kesediaan mengikuti aturan keselamatan regu tanpa tawar-menawar.
Fakultas Kehutanan Universitas Lambung Mangkurat
Banjarbaru
Wawancara ahli, peta hasil penelitian, alat ukur manual, arsip penelitian sebelumnya. Janji temu, dan salinan penelitian yang akan dibahas agar wawancara tidak dimulai dari nol.
Puskesmas atau Dinas Kesehatan
Banjarbaru
Antrean pasien saluran pernapasan, data kunjungan bulanan, keterangan tenaga kesehatan. Izin resmi, dan aturan ketat soal identitas pasien serta larangan merekam anak tanpa izin wali.

Waktu menentukan segalanya. Adegan api, asap, dan regu pemadam hanya bisa diambil saat musim kebakaran berlangsung. Wawancara ahli, data, dan adegan permukiman bisa diambil kapan saja. Kalau musim sedang berjalan seperti sekarang, dahulukan yang tidak bisa diulang.

10Naskah wawancara per narasumber

Lima narasumber, masing-masing dengan tugas berbeda di dalam cerita. Pertanyaan disusun bertingkat, dari yang mudah dijawab menuju yang menentukan. Di bawah tiap naskah ada daftar pertanyaan yang tidak boleh diajukan, sebagian karena menjebak narasumber, sebagian karena menghasilkan jawaban yang tidak bisa dipakai.

Dosen ahli gambut dan kebakaran lahan
Fakultas Kehutanan Universitas Lambung Mangkurat · tugasnya menjelaskan sebab dan beda cara ukur
  1. Bagi orang yang belum pernah menginjak lahan gambut, gambut itu sebenarnya apa? Pancingan: bisakah dijelaskan sambil memegang gambut basah dan gambut kering?
  2. Kenapa lahan yang dulu tergenang sepanjang tahun sekarang bisa terbakar setiap musim kemarau?
  3. Apa yang sebenarnya terjadi di dalam tanah ketika gambut terbakar? Pancingan: berapa lama bara bisa bertahan setelah permukaan tampak padam?
  4. Bagaimana cara mengukur potensi kebakaran lewat citra satelit, dan apa yang sebenarnya dibaca satelit?
  5. Bagaimana cara mengukurnya lewat alat yang ditancapkan ke tanah, dan apa yang dibaca alat itu? Pancingan: mana yang berubah lebih dulu, angka di tanah atau titik panas di layar?
  6. Dalam penelitian tinggi muka air, berapa titik yang harus didatangi, dan bagaimana cara mengukurnya? Pancingan: berapa lama waktu yang dibutuhkan, dan berapa lama hasilnya masih berlaku?
  7. Kalau anggaran hanya cukup untuk satu hal, memperbanyak alat ukur di tanah atau memperbaiki tata airnya?
  8. Apa yang selama ini tidak kita ketahui karena tidak diukur?
  9. Sepengetahuan Bapak atau Ibu, alat pemantau tinggi muka air milik pemerintah ada berapa di Kalimantan Selatan, dan datanya dipakai siapa?

Jangan ditanyakan. Jangan meminta narasumber menyalahkan instansi tertentu. Jangan meminta memastikan penyebab satu kejadian kebakaran yang sedang diusut. Jangan meminta menaksir biaya alat, karena itu bukan bidangnya dan angkanya akan menempel di beritanya.

Peneliti atau alumnus perancang alat deteksi dini
Penulis penelitian sensor pemantau gambut · tugasnya menunjukkan gagasan ini sudah lama ada
  1. Apa yang membuat Anda dulu tertarik membuat alat pemantau gambut?
  2. Alat itu mengukur apa saja, dan diletakkan di mana? Pancingan: kalau alatnya masih ada, bisakah ditunjukkan dan dinyalakan di depan kamera?
  3. Waktu itu datanya dibaca bagaimana, dan berapa sering?
  4. Berapa titik yang bisa dipantau alat itu? Pancingan: apa yang terjadi pada lahan yang jauh dari titik pengukuran?
  5. Apa kendala terbesar pada masa itu, dari sisi biaya, daya listrik, dan pengiriman data?
  6. Kalau alat yang sama dibuat sekarang, apa yang paling berbeda?
  7. Setelah penelitian selesai, apa yang terjadi pada alatnya? Pancingan: apakah ada pihak yang menindaklanjuti?
  8. Menurut Anda, kenapa gagasan seperti ini berhenti di tingkat penelitian?

Jangan ditanyakan. Jangan meminta menjanjikan bahwa alatnya pasti berhasil bila diperbanyak. Jangan meminta membandingkan mutu alatnya dengan produk perusahaan tertentu. Hindari nada yang membuat penelitian lama terdengar gagal, karena yang kita cari justru buktinya bahwa jalannya sudah pernah dirintis.

Petugas pemadam lapangan
Regu BPBD atau Manggala Agni · tugasnya membuktikan jarak antara layar dan lapangan
  1. Pagi ini, dari mana informasi pertama tentang lokasi api datang? Pancingan: bisakah kami merekam layarnya saat Anda menerangkan?
  2. Setelah titik panas muncul di layar, berapa lama sampai regu tiba di lokasi?
  3. Dari sepuluh titik panas yang didatangi, kira-kira berapa yang benar ada apinya? Pancingan: apa yang paling sering ditemukan kalau ternyata tidak ada api?
  4. Pernahkah menemukan api besar di lokasi yang tidak muncul sebagai titik panas?
  5. Bagaimana rasanya memadamkan api gambut dibanding api semak biasa? Pancingan: berapa lama satu lokasi harus dijaga sesudah tampak padam?
  6. Bagaimana cara memastikan bara di bawah tanah benar-benar mati?
  7. Apa yang paling menghabiskan tenaga regu selama satu musim?
  8. Kalau Anda boleh meminta satu alat atau satu informasi tambahan, apa yang diminta?

Jangan ditanyakan. Jangan meminta mengomentari kebijakan atasan atau kecukupan anggaran instansinya, karena jawabannya bisa berakibat pada pekerjaannya. Jangan meminta menyebut nama pemilik lahan yang diduga membakar. Jangan pernah meminta regu menunda pemadaman demi pengambilan gambar.

Warga terdampak dan petani gambut
Kelurahan atau desa di tepi lahan gambut · tugasnya memberi wajah dan ingatan
  1. Sudah berapa lama tinggal di sini, dan sejak kapan kebakaran mulai jadi kejadian tahunan?
  2. Ceritakan kebakaran yang paling Anda ingat. Pancingan: apa yang pertama kali terlihat atau tercium waktu itu?
  3. Api datang dari arah mana, dan bagaimana ia sampai ke lahan Anda?
  4. Waktu asap tebal, kegiatan sehari-hari berubah bagaimana? Pancingan: bagaimana dengan anak-anak, sekolah, dan pekerjaan?
  5. Kalau melihat api atau asap, biasanya melapor ke siapa, dan berapa lama sampai ada yang datang?
  6. Ada tidak cara warga sendiri mencegah atau memadamkan? Pancingan: alat apa yang dipunya, dan apa yang tidak dipunya?
  7. Menurut Anda, apa yang paling dibutuhkan supaya kejadian ini berhenti berulang?

Jangan ditanyakan. Jangan menanyakan siapa yang membakar dengan cara yang membuat narasumber menuduh tetangganya di depan kamera. Jangan menekan warga menyebut kerugian dalam rupiah kalau ia tidak yakin. Jangan mewawancarai anak tentang penyakitnya tanpa izin orang tua dan tanpa kehadiran mereka.

Tenaga kesehatan
Puskesmas atau Dinas Kesehatan · tugasnya mengubah asap menjadi angka dan gejala
  1. Saat musim asap, apa yang berubah pada antrean di sini? Pancingan: berapa kunjungan pada hari biasa, dan berapa saat asap tebal?
  2. Keluhan seperti apa yang paling sering muncul, dan pada kelompok umur mana?
  3. Bisakah kami memperoleh data kunjungan bulanan beberapa tahun terakhir? Pancingan: bagaimana cara resmi memintanya, dan berapa lama prosesnya?
  4. Bagaimana membedakan lonjakan akibat asap dengan lonjakan akibat musim penyakit biasa?
  5. Apa yang terjadi pada pasien dengan penyakit paru menahun saat asap tebal?
  6. Apa yang paling dibutuhkan fasilitas ini saat musim asap datang?

Jangan ditanyakan. Jangan meminta angka yang belum diverifikasi lalu menayangkannya sebagai data resmi. Jangan merekam wajah pasien tanpa izin tertulis. Jangan meminta tenaga kesehatan menyimpulkan hubungan sebab akibat antara asap dan kematian, karena pernyataan semacam itu memerlukan kajian tersendiri.

11Urutan adegan dan pengambilan gambar

Susunan adegan berikut dirancang untuk dokumenter sepanjang sepuluh sampai lima belas menit. Perhatikan adegan penutup: dokumenter ini berhenti pada pertanyaan, bukan pada tawaran. Solusi tidak muncul sama sekali di dalam video maupun artikel.

AdeganDurasiIsi
10:00–1:30Kota di dalam asap. Pagi berkabut asap, orang bermasker, lampu kendaraan menyala siang hari, papan informasi kualitas udara. Teks di layar: luas terbakar musim ini dan jumlah kejadian.
21:30–3:00Tanah yang bisa terbakar. Peneliti mengambil segenggam gambut kering dan gambut basah. Penjelasan singkat apa itu gambut dan kenapa airnya penting.
33:00–5:00Api yang tidak terlihat. Asap keluar dari permukaan tanah tanpa nyala. Regu menyiram, lalu tanah digali dan masih panas. Warga menceritakan api yang menjalar dari lahan sebelah.
45:00–7:30Cara kita memburu api. Layar titik panas di posko, regu berangkat, perjalanan menuju koordinat, hasil verifikasi apa adanya, termasuk bila ternyata nihil.
57:30–10:00Dua cara mengukur. Dosen menjelaskan beda satelit dan alat di tanah. Adegan pengeboran titik ukur. Peta hasil penelitian ratusan titik ditunjukkan di layar.
610:00–12:00Yang ditanggung tubuh. Antrean puskesmas, tenaga kesehatan menerangkan lonjakan kunjungan, warga yang terdampak berbicara singkat.
712:00–13:30Pertanyaan penutup. Kembali ke lahan terbakar saat senja. Narasi menutup dengan pertanyaan: kalau kita tahu lahan mengering berminggu-minggu sebelum terbakar, kenapa kita menunggu sampai apinya terlihat dari langit?

Pengambilan gambar dibagi menjadi tiga hari kerja. Urutan ini menaruh perkenalan di depan, adegan yang bergantung pada kejadian di tengah, dan wawancara duduk di belakang, supaya narasumber sudah terbiasa dengan kehadiran kamera saat pertanyaan terpenting diajukan.

Ctrl/Cmd + gulir untuk memperbesar. Seret untuk menggeser. Klik ganda untuk pas layar.

Memuat...

Gambar pendukung yang mudah terlupa

12Kerangka artikel panjang

Artikel memikul beban penjelasan yang tidak muat di video, terutama angka dan metode. Susunan berikut menaruh temuan di depan, sesuai kebiasaan pembaca daring yang jarang sampai ke paragraf terakhir.

BagianIsiBahan yang dipakai
PembukaSatu kejadian konkret: satu lahan, satu keluarga, satu hari saat api muncul dari tanah yang sudah disiram.Wawancara warga, gambar lapangan
PersoalanSkala musim ini dalam angka resmi, dan sebarannya per wilayah.Data BPBD, nomor 3
SebabKenapa gambut mengering: kanal, tata air, dan tinggi muka air tanah.Penelitian Liang Anggang, nomor 7
CelahBagaimana api dipantau hari ini, dan apa yang tidak terlihat oleh cara itu.Keterangan BMKG, wawancara regu pemadam, nomor 5 dan 6
Bukti manusiaBeban kesehatan, dengan satu sumber data yang konsisten.Data dinas kesehatan, wawancara tenaga kesehatan
Yang sudah dicobaPenelitian kampus, alat pemantau pemerintah yang sudah ada, dan keterbatasannya.Nomor 7, hasil verifikasi nomor 18
PenutupPertanyaan terbuka kepada pengambil kebijakan, tanpa menawarkan produk apa pun.Kesimpulan redaksi
13Keselamatan dan etika di lapangan

Liputan kebakaran gambut punya bahaya yang tidak dimiliki liputan lain, dan bahaya terbesarnya justru yang paling tidak terlihat. Daftar berikut dibuat untuk dicentang di lapangan, bukan untuk dibaca sekali lalu dilupakan.

Sebelum berangkat
Di lokasi kebakaran
Terhadap narasumber

Satu aturan yang tidak punya pengecualian. Tidak ada gambar yang cukup berharga untuk ditukar dengan keselamatan seseorang, termasuk keselamatan anggota tim sendiri. Kalau regu pemadam menyuruh mundur, kamera dimatikan dan tim mundur, tanpa menawar satu menit pun.

Bagian C · Tersegel

Usulan solusi, dibuka setelah isunya sampai

Bagian ini bukan bahan liputan. Isinya baru disampaikan oleh INSTRUMETA dalam pertemuan dengan pemangku kebijakan atau calon pendukung, setelah artikel dan dokumenter terbit dan persoalannya sudah dikenal publik.

14Batas bab ini, dan kapan ia dibuka

Aturan main. Rekan jurnalis tidak memakai isi Bagian C sebagai bahan pemberitaan. Dokumenter dan artikel berhenti pada pertanyaan, dan tidak menawarkan alat, produk, atau nama pihak mana pun sebagai jawaban. Alasannya sederhana: liputan yang sekaligus menawarkan solusi akan dibaca sebagai iklan, dan nilainya di mata pengambil keputusan justru jatuh.

Bagian ini dibuka ketika ketiga hal berikut sudah terpenuhi: artikel dan dokumenter sudah terbit, ada pihak yang menanyakan apa yang bisa dilakukan, dan pertemuan resmi sudah dijadwalkan.

PihakBoleh membaca bagian iniAlasan
Tim INSTRUMETA dan tim teknisYaMerekalah yang menyusun dan menguji rancangannya.
Rekan jurnalisBoleh tahu keberadaannya, tidak dipakai sebagai bahan beritaMenjaga jarak antara liputan dan penawaran, demi kredibilitas keduanya.
Pemangku kebijakanYa, setelah liputan terbitPada titik itu persoalannya sudah dikenal, sehingga usulan dibaca sebagai jawaban, bukan jualan.
Calon pendukung danaYa, setelah liputan terbitPerlu melihat rancangan, kisaran biaya, dan tahapan sebelum memutuskan.
Narasumber di lapanganTidak sebelum liputan terbitAgar jawaban mereka tidak terpengaruh oleh solusi yang sedang ditawarkan.
15Rancangan stasiun pemantau

Gagasannya sederhana dan sengaja tidak canggih: satu tiang berisi alat ukur yang ditancapkan ke dalam tanah gambut, ditenagai matahari, mengirim angka secara berkala ke pusat data, dan sesekali mengirim satu gambar untuk memastikan keadaan di sekitarnya. Kekuatannya bukan pada satu stasiun, melainkan pada banyak stasiun yang bekerja bersamaan dan terus-menerus.

Ctrl/Cmd + gulir untuk memperbesar. Seret untuk menggeser. Klik ganda untuk pas layar.

Memuat...
Yang diukurKenapa diukurApa artinya bila memburuk
Tinggi muka air tanahPenanda utama kekeringan gambut, dan dasar pengelolaan tata air.Semakin dalam muka airnya, semakin tebal lapisan kering yang siap terbakar.
Suhu tanah pada beberapa kedalamanBara di bawah permukaan menaikkan suhu di kedalaman sebelum panasnya tembus ke atas.Kenaikan pada lapisan dalam menandakan ada yang membara, meski permukaan tampak biasa.
Kelembaban tanahMelengkapi muka air, karena gambut bisa kering di lapisan atas walau air masih ada di bawah.Semakin kering lapisan atas, semakin mudah satu percikan menyala.
Gambar berkalaMemastikan keadaan sekitar tanpa mengirim orang, dan mengurangi perjalanan sia-sia.Asap terlihat pada gambar menjadi alasan kuat untuk mengirim regu.

Keberatan pertama yang akan muncul, dan jawabannya. Penelitian tinggi muka air di Liang Anggang memakai 173 titik untuk kawasan 960 hektare, artinya satu titik mewakili sekitar 6,25 hektare. Jaringan stasiun tidak mungkin serapat itu, dan memang tidak perlu. Penelitian membutuhkan kerapatan tinggi untuk membuat peta sekali jadi. Pemantauan membutuhkan titik yang lebih sedikit tetapi terus-menerus, ditempatkan pada zona yang mewakili dan pada tepi kawasan yang paling sering menjadi tempat api bermula. Perbandingan yang jujur bukan 173 titik sekali ukur lawan 10 titik sekali ukur, melainkan 173 titik sekali ukur lawan 10 titik yang mengukur setiap jam sepanjang musim.

16Jaringan, pusat data, dan kisaran biaya

Satu stasiun hanya menghasilkan angka. Yang berguna bagi pengambil keputusan adalah kumpulan angka dari banyak titik, ditampilkan sebagai peta yang berubah setiap hari, dan diteruskan kepada orang yang bisa bertindak.

Ctrl/Cmd + gulir untuk memperbesar. Seret untuk menggeser. Klik ganda untuk pas layar.

Memuat...

Kisaran biaya per stasiun

Baca ini sebelum memakai angka di bawah. Seluruh angka berikut adalah perkiraan kasar untuk menyusun gambaran awal, bukan hasil penawaran dan bukan hasil pengukuran di lapangan. Angka sebenarnya bergantung pada pilihan sensor, mutu bahan, jarak lokasi, dan jumlah unit yang dipesan. Tugas pertama tahap uji coba justru mengganti seluruh kolom ini dengan angka nyata. Jangan mencantumkan angka ini dalam dokumen anggaran resmi.

KomponenFungsiKisaran kasar per stasiun
Panel surya dan pengatur pengisianSumber daya mandiri, tanpa jaringan listrik.Rp 0,7 juta – Rp 1,5 juta
Baterai dan boks dayaMenyimpan daya untuk malam dan hari mendung.Rp 1 juta – Rp 2,5 juta
Papan kendali dan modemMembaca sensor dan mengirim data.Rp 0,5 juta – Rp 1,5 juta
Sensor tinggi muka airMengukur kedalaman air tanah.Rp 0,7 juta – Rp 3 juta
Sensor suhu bertingkat dan kelembabanMembaca panas dan kekeringan di dalam tanah.Rp 0,5 juta – Rp 2 juta
Kamera hemat dayaMemastikan keadaan sekitar tanpa mengirim orang.Rp 0,5 juta – Rp 2 juta
Tiang, boks tahan cuaca, pengamanMelindungi alat dari hujan, panas, dan pencurian.Rp 1 juta – Rp 3 juta
Pemasangan dan pengujianTenaga, transportasi, dan uji coba di lokasi.Rp 1 juta – Rp 3 juta
Perkiraan kasar satu stasiunJumlah seluruh komponen di atas.Rp 6 juta – Rp 18 juta
Biaya berjalanKeteranganKisaran kasar
Kartu data per stasiunPengiriman angka berkala, kebutuhan data kecil.Rp 50 ribu – Rp 150 ribu per bulan
Pusat data dan tampilan petaUntuk seluruh jaringan, bukan per stasiun.Rp 0,5 juta – Rp 3 juta per bulan
Perawatan tahunanPembersihan panel, penggantian baterai dan sensor rusak, kunjungan lapangan.Sekitar 10 sampai 20 persen dari biaya pengadaan per tahun
Orang yang membaca dan menindaklanjutiBagian yang paling sering dilupakan dan paling menentukan keberhasilan.belum dihitung
17Tahapan uji coba

Usulan ini sengaja tidak dimulai dari angka besar. Tiap tahap punya satu pertanyaan yang harus dijawab, dan tahap berikutnya hanya dijalankan bila pertanyaan itu terjawab dengan bukti, bukan dengan keyakinan.

TahapUkuranPertanyaan yang dijawabSyarat lanjut ke tahap berikut
0Tanpa alat, sekitar satu bulan Apa yang sudah terpasang di Kalimantan Selatan, masih berfungsi atau tidak, dan datanya sampai ke siapa. Ada jawaban tertulis dari instansi terkait, dan peta alat yang sudah ada.
13 sampai 5 stasiun, satu musim kemarau Apakah alatnya bertahan di lapangan, dan apakah angkanya berubah lebih dulu dibanding munculnya titik panas. Alat bertahan satu musim penuh, dan ada minimal beberapa kejadian yang bisa ditelusuri mundur pada datanya.
220 sampai 50 stasiun, satu kota Apakah petanya mengubah cara regu bekerja, dan apakah perjalanan sia-sia berkurang. Regu pemadam menyatakan datanya dipakai, dan ada catatan perbandingan sebelum dan sesudah.
3Ratusan titik, tingkat provinsi Apakah biaya per hektare yang terselamatkan masuk akal dibanding biaya pemadaman. Keputusan anggaran tahunan, dengan biaya perawatan yang sudah dianggarkan sejak awal.

Risiko terbesar bukan teknologi. Alat semacam ini sudah pernah dibuat orang, jadi pertanyaannya bukan apakah bisa. Risiko terbesarnya adalah alat terpasang lalu tidak dirawat, data mengalir lalu tidak dibaca, dan peringatan muncul lalu tidak ada yang bertugas menindaklanjuti. Karena itu tahap 2 tidak diukur dari jumlah stasiun yang berdiri, melainkan dari berubahnya cara regu bekerja.

Lampiran

Yang belum pasti dan dari mana angkanya

Daftar tugas verifikasi sebelum menulis atau mengusulkan apa pun, dan sumber seluruh angka yang dipakai dalam dokumen ini.

18Yang belum diverifikasi

Dokumen ini disusun dari data resmi yang dipublikasikan dan penelitian yang bisa diakses umum. Beberapa hal belum bisa dipastikan tanpa bertanya langsung, dan semuanya dicatat di sini agar tidak terlewat.

HalKenapa pentingKepada siapa ditanyakan
Jumlah dan kondisi alat pemantau muka air yang sudah terpasang di Kalsel Menentukan apakah usulan ini menambah atau mengulang. Kalau alatnya sudah banyak dan berfungsi, usulan berubah menjadi memperbaiki pemanfaatan data, bukan menambah alat. Badan Restorasi Gambut dan Mangrove, dinas lingkungan hidup provinsi
Angka kasus penyakit saluran pernapasan yang sebanding Empat angka yang beredar punya cakupan dan periode berbeda, sehingga belum bisa dipakai dalam satu grafik. Dinas Kesehatan provinsi dan kota
Rangkaian luas kebakaran beberapa tahun dari satu sumber Diperlukan untuk menyatakan naik atau turun tanpa bisa dibantah. BPBD provinsi
Berapa persen titik panas yang ternyata bukan kebakaran Ini angka kunci seluruh argumen, dan sejauh ini belum ditemukan dalam bentuk resmi. Regu pemadam melalui catatan verifikasi harian mereka
Identitas dan judul penelitian sensor yang diingat tim Penelitian lama tentang alat pemantau satu titik perlu dipastikan judul, tahun, dan penulisnya sebelum dikutip. Dosen pembimbing di kampus yang bersangkutan
Ambang kedalaman muka air yang berlaku secara hukum Angka 40 sentimeter dipakai luas dalam pengelolaan gambut, tetapi dasar hukum persisnya harus dikutip dengan tepat. Dokumen peraturan resmi, jangan mengutip dari berita
Kisaran biaya seluruh komponen stasiun Angka pada nomor 16 adalah perkiraan kasar dan belum pernah diuji lewat penawaran. Pemasok alat ukur dan pelaksana pemasangan
19Sumber data
Keterangan yang dipakaiSumber
Luas kebakaran hutan dan lahan Kalimantan Selatan 12.339,74 hektare dengan 2.332 kejadian sampai 1 September 2026, beserta rincian per wilayah dan prioritas ring satu bandara Laporan BPBD Kalimantan Selatan sebagaimana diberitakan Antara, 5 September 2026
kalbar.antaranews.com/berita/711779
Sekitar 46 ribu kasus infeksi saluran pernapasan akut di Kalimantan Selatan dengan kabut asap sebagai penyebab utama Kompas.com, 31 Agustus 2026
regional.kompas.com, ISPA di Kalsel tembus 46 ribu kasus
21.323 kasus infeksi saluran pernapasan akut di Kota Banjarbaru sepanjang Januari sampai Juli 2026 Katadata, mengutip Dinas Kesehatan Banjarbaru, awal September 2026 perlu konfirmasi langsung
Metode deteksi titik panas memakai sensor VIIRS dan MODIS pada satelit NOAA-20, S-NPP, Terra, dan Aqua, berdasarkan anomali suhu permukaan BMKG, halaman citra sebaran titik panas
bmkg.go.id/cuaca/satelit/polar-hotspot
Titik panas belum tentu berarti ada kebakaran dan masih perlu diverifikasi di lapangan Keterangan resmi pemerintah melalui kanal informasi publik dan portal SiPongi
Zonasi tinggi muka air di Hutan Lindung Liang Anggang: 960 hektare, 173 dari 190 titik, grid 250 meter, muka air 0,02 sampai 1,3 meter, sekitar 95 persen kawasan pada zona sampai 60 sentimeter Suyanto dan Yusanto Nugroho, Fakultas Kehutanan Universitas Lambung Mangkurat
repo-dosen.ulm.ac.id, Zonasi Tinggi Muka Air Gambut
Kebakaran berulang di Landasan Ulin Utara: 50 responden, 76 persen menyatakan api menjalar dari lokasi lain termasuk lewat lapisan bawah tanah, 80 persen hanya melapor dan 20 persen ikut memadamkan, serta luas provinsi dan luas gambut Kalsel Fonny Rianawati dan tim, Fakultas Kehutanan Universitas Lambung Mangkurat
online-journal.unja.ac.id, Pencegahan Kebakaran Berulang pada Lahan Gambut
Keberadaan sistem pemantauan tinggi muka air gambut milik pemerintah yang mencakup enam provinsi termasuk Kalimantan Publikasi resmi Badan Restorasi Gambut dan Mangrove jumlah alat di Kalsel belum diverifikasi
Purwarupa akademik alat pemantau gambut berbasis mikrokontroler dengan sensor muka air, suhu, kelembaban, dan kualitas udara serta pengiriman data radio jarak jauh Lintang Artha Panca, Politeknik Negeri Pontianak, jurnal teknik elektro